Media Edukasi Kesehatan dan Keperawatan Terpercaya

Makalah Child Abuse


Child Abuse


A. Pengertian
Abuse adalah kata yang biasa diterjemahkan menjadi kekerasan, penganiayaan,penyiksaan, atau perlakuan salah. Kekerasan adalah perilaku tidak layak yang mengakibatkan kerugian atau bahaya secara fisik,psikologis, atau finansial,baik yang di alami individu maupun kelompok. Sedangkan child abuse sendiri di pakai untuk menggambarkan kasus anak-anak di bawah 16 tahun yang mendapat gangguan dari orang tua atau pengasuhnya dan merugikan anak secara fisik dan kesehatan mental serta perkembanganya.(Bagong Suyanto,2010)
Kekersan terhadap anak adalah perbuatan di sengaja yang menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik maupun emosional. Istilah child abuse meliputi berbagai macam bentuk tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara langsung oleh orang tua atau orang dewasa lainnya sampai kepada penenlantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak. (Richard J.Gelles , 2004 )
Kekerasan terhadap anak (child abuse) adalah peristiwa pelukaan fisik, mental atau seksual yang umumnya di lakukan oleh orang-orang yang mempunyai tangguang jawab terhadap kesejahteraan anak yang mana itu semua di indikasikan dengan kerugian dan ancaman terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak.
Kekerasan terhadap anak adalah tindakan melukai yang berulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap anak yang ketergantungan, melalaui desakan hasrat, hukuman badan yang tak terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual, biasanya di lakukan pada orang tua atau pihak lain yang seharunya merawat anak.( Abu Hurairah,2007) 
Pada awalnya mulainya istilah tindaj kekerasan atau child abuse and neglect berasal dan mulai di kenal dari dunia kedokteran. Sekitar 1946, caffey seorang radiologis melaporkan kasus cedera yang berupa gejala klinik seperti patah tulang yang majemuk pada anak atau bayi disertai perdarahan subdural tanpa mengetahui sebabnya. Dalam dunia kedokteran kasus ini dikenal dengan istilah Caffy Sindrom.(Ranuh,1999)
B. Etiologi
Menurut Rusmil (2004), menjelaskan bahwa penyebab atau risiko terjadinya kekerasan dan penelentaraan terhadap anak dibagi ke dalam tiga faktor,yaitu faktor orang tua/ keluaraga, faktor lingkungan sosial/komunitas dan faktor anak sendiri.
1. Faktor orang tua atau keluarga 
Faktor orang tua memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaraan pada anak. faktor-faktor yang menyebabkan orang tua melakukan kekerasan pada anak di antaranya:
a. Praktik-praktik budaya yang merugikan anak ; kepatuhan anak kepada orang tua dan hubungan asimetris
b. Dibesarkan oleh penganiayaan 
c. Gangguan mental 
d. Belum mencapai kemantangan fisik, emosi maupun sosial, terutama mereka yang mempunyai anak sebelum berusia 20 tahun 
e. Pecandu minuman keras adan obat
2. Faktor lingkungan sosial atau komunitas 
Kondisi lingkungan sosial juga dapat menjadi pencetus terjadinya kekerasan anak. faktor lingkungan sosial yang dapat menyebabkan kekerasan dan penelantaraan pada anak di antarannya:
a. Kemiskinan dalam masyarakat dan tekanan nilai materialistis 
b. Kondisi sosial ekonomi yang rendah 
c. Adanya nilai dalam masyarakat bahwa anak adalah milik orang tua sendiri 
d. Status wanita yang di pandang rendah
e. Sistem keluarga patriarchal
f. Nilai masyarakat yang terlalu individualistis
3. Faktor anak itu sendiri 
a. Penderita gangguan perkembangan, menderita penyakit kronis di sebabkan ketergantungan anak kepada lingkungannya
b. Prilaku menyimpang pada anak
Menurut Siti Fatiamah(1992) mengungkapakan setidaknya terdapat enam kondisi yang menjadi faktor penyebab terjadinya kekerasan atau pelanggaran dalam keluarga yang dilakukan terhadap anak:
1. Faktor ekonomi, kemiskinan yang dihadapi sebuah keluarga sering kali membawa keluarga tersebut pada situasi kekecewaan yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan
2. Masalah keluarga, hal ini lebih mengacu pada situasi khusunya hubungan orang tua yang kurang harmonis
3. Faktor perceraian, perceraian dapat menimbulkan problematika kerumahtanggaan seperti persoalan hak pemeliharaan anak, pemberian kasih sayang pemberian nafkah dan sebagainya
4. Kelahiran anak diluar nikah, tidak jarang sebagai akibat adanya kelahiran di luar nikah menimbulkan masalah diantara kedua orang tua anak .belum lagi jika melibatkan pihak keluarga dari pasangan tersebut
5. Menyangkut perlakuan jiwa atau psikologis, dalam berbagai kajian psikologis disebutkan bahwa orang tua yang melakukan tindak kekerasan ata penganiayaan terhadap anak-anak adalah mereka yang memiliki problem psikologis
Sedangkan menurut Richard J. Gelles,(2004), mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor: personal, sosial, kultural, faktor-faktor tersebut, dapat dikelompokkan ke dalam empat katagori utama yaitu:
1. Pewarisan kekerasan antar generasi
Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orang tuannya dan ketika tumbuh menjadi dewasa mereka melakukan tindakan kekerasan kepada anaknya.dengan demikian perilaku kekerasan di warisi dari generasi ke generasi
2. Stress sosial 
Stress yang di timbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan risiko kekerasa terhadap anak dalam keluarga. Kondisi sosial ini mencakup ;pengangguaran,penyakit, kondisi perumahan buruk,orang cacat di rumah,dan kematian seorang anggota keluarga.sebagian besar kasus di laporkan tentang tindakan kekerasan tehadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan.
3. Isolasi sosial dan keterlibatan masyarakat bawah
Ornag tua dan pengganti orang tua yang melakukan tindakan kekerasan terhadap anak cenderung terisolai secara sosial. Sedikit sekali orang tua yang bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat. Kekeurangan keterlibatan sosial ini menghilangkan sistem dukungan dari orang tua yang bertindak keras, yang akan membantu mereka mengatasi stress keluarga atau sosial dengan lebih baik.
4. Struktur keluarga
Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki risiko yang meningkat untuk melakukan tindakan kekersan dan pengabaian kepada anak.
C. Klasifikasi
Menurut Suharto (1997), klasifikasi kekerasan terhadap anak menjadi empat bentuk yaitu:
1. Kekerasan anak secara fisik, penyiksaan, pemukulan, dan penganiayaan terhadap anak tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak.
2. Kekerasan anak secara psikis, meliputi penghardikan, penyampaian kata-kata kasar dan kotor,memperlihatkan buku, gambar dan film pornografi pada anak. anak yang mendapatkan perlakuan ini umumnya menunjukkan gejala perilaku maladaptife seperti menarik diri,pemalu,menangis jika di dekati
3. Kekerasan anak secara seksul, dapat berupa perlakuan prakontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual,exhibitionism),maupun perilaku kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest,perkosaan,eksploitasi seksual)
4. Kekerasan anak secara sosial, dapat mencakup penelantaran anak dan eksploitasi anak. penelantaraan anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak.Misalnya,anak dikucilkan,di asingkan dari keluarga atau tidak di berikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak.eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yang di lakukan keluarga atau masyarakat. Sebagai contoh memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi kepentingan ekonomi,sosial atau politik tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan sesuai dengan perlindungan fisik,psikisnya dan status sosialnya. Misalnya anak dipaksa untuk bekerja di pabrik-pabriky ang membahayakan (pertambnangan,sector alas kaki) dengan upah rendah dan tanpa peralatan yang memadai,anak di paksa untuk angkat senjata,atau di paksa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga melebihi batas kemampuannya.
Menurut Bagong Suyanto (2010), tindakan kekerasan atau pelanggaran terhadap hak anak tersebut dapat terwujud dalam empat bentuk yaitu:
1. Kekerasan fisik, bentuk ini paling mudah di kenal. Terkatogarisasi sebagai kekerasan jenis ini adalah menampar, menendang, memukul, mencekik, mendorong, menggigit, membenturkan,mengancam dengan benda tajam. Korban kekerasan ini biasanya tampak secara langsung pada fisik korban seperti memar,berdarah ,patah tulang
2. Kekerasan psikis. Kekerasan jenis ini tidak begitu mundah untuk di kenali, akibat yang di rasakan oleh korban tidak memberikan bekas yang nampak jelas, dampak kekerasan jenis ini akan berpengaruh pada situasi tidak aman dan nyama, menurunya harga diri serta martabat korban.
3. Kekerasan seksual, terumasuk dalam katagori ini adalah segala tindakan yang muncul dalam bentuk paksaan atau mengncam untuk melakukan hubungna seksual, melakukan penyiksaan atau bertindak sadis serta meninggalkan seorang termasuk mereka yang tergolong masih berusia anak-anak setelah melakukan hubungan seksualitas 
4. Kekerasan ekonomi, kekerasan jenis ini sering terjadi di lingkungan keluarga. Perilaku melarang pasangan untuk bekerja atau mencampuri pekerjaan pasangan,menolak memberikan uang atau mengambil uang. Serta mengurangi jatah belanja bulanan merupakan contoh konkret bentuk kekerasan ekonomi.
A. Efek kekerasan terhadap anak
Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Suharto (1997) menyimpulkan bahwa kekerasan dapat menyebabkan anak kehilangan hal-hal yang paling mendasar dalam kehidupanya dan pada giliranya berdampak sangat serius pada kehidupan anak di kemudian hari antara lain :
1. Cacat tubuh permanen 
2. Kegagalan belajar 
3. Gangguan emosional bahkan dapat menjurus pada gangguan kepribadian 
4. Konsep diri yang buruk dan ketidakmampuan untuk mempercayai atau mencintai orang lain
5. agresif dan kadang-kadang melakukan tindakan kriminal 
6. Menjadi pengainiaya ketika dewasa
7. Menggunakan obat-obatan atau alcohol
8. Pasif dan menarik diri dari lingkungan,takut membina hubungan baru dengan orang lain
9. Kematian
B. Dampak kekerasan pada anak
Dampak yang di alami anak-anak yang menjadi korban tindak kekerasan menurut Pinky Saptandari,(2002 ) :
1. Kurangnya motivasi atau harga diri 
2. Problem kesehatan mental,misalnya: kecemasan berlebihan,problem dalam hal makan,susah tidur
3. Sakit yang serius dan luka parah sampai cacat permanen : patah tulang, radang karena infeksi ,dan mata lebam,termasuk juga sakit kepala,perut otot dan yang bertahun-tahun meski bila ia tak lagi dianiaya
4. problem-problem kesehatan seksual, misalnya mengalmi kerusakan organ reroduksinya,kehamilan yang tidak di inginkan, ketularan penyakit menular seksual
5. mengembnagkan perilaku agresif (suka menyerang) atau jadi pemarah, atau bahkan sebaliknya menjadi pendiam dan suka menarik diri dari pergaulan 
6. mimpi buruk sdan serba ketakutan,kehilangan nafsu makan, tumbuh dan belajar lebih lamban, sakit perut ,asma ,dan sakit kepala
7. kematian
C. Anak korban sexual abuse
Menurut Resna dan Darmawan (2002) bahwa tindakan penganiayaan sexual dapatdi bagi atas tiga katagori yaitu perkosaan , incest, dan eksploitasi.
Ciri-ciri umum anak yang mengalami sexual abuse adalah
a.Tanda-tanda perilaku
Perubahan-perubahan mendadak pada perilaku, perilaku ekstrim, gangguan tidur, perilaku regresif, perilaku anti-sosial atau nakal, perilaku menghindar, perilaku seksual yang tidak pantas, bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap diri sendiri. 
b. Tanda- tanda kognisi
Tidak dapat berkonsentrasi, minat sekolah memudar.
c. Tanda-tanda sosial-emosional
Rendahnya kepercayaan diri, menarik diri, depresi tanpa penyebab jelas, ketakutan berlebihan,keterbatasan perasaan 
d. Tanda-tanda fisik
Perasaan sakit yang tidak jelas, luka-luka pada alat kelaminatau mengidap penyakit kelamin, hamil. 
D. Akibat pada tumbuh kembang anak
Pertumbuhan dan perkembangan anak yang mengalami perlakuan salah, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu :
1. Pertumbuhan fisik pada anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya yang tidak mendapat perlakuan salah. Tetapi Oates dkk.1984, mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna dalam tinggi badan dan berat badan dengan anak normal.
2. Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan, yaitu :
` a. Kecerdasan
· Berbagai peneliti melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif, bahasa, membaca dan motorik.
· Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena malnutrisi.
· Pada beberapa kasus keterlambatan ini diperkuat oleh lingkungan anak, dimana tidak adanya stimulasi yang adekuat atau karena gangguan emosi.
b. Emosi
· Terdapat gangguan emosi pada : perkembangan konsep diri yang positif, dalam mengatasi sifat agresif, perkembangan hubungan sosial dengan orang lain, termasuk kemampuan untuk percaya diri.
· Terjadi pseudomaturitas emosi , beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, sedang yang lainnya menjadi menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka ngompol, hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, dan sebagainya.
c. Konsep diri
Anak yang mendapat perlakuan salah merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak dikehendaki, muram dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan bahkan ada yang mencoba bunuh diri.
d. Agresif
Anak yang mendapat perlakuan salah secara badani, lebih agresif terhadap teman sebayanya. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orang tua mereka atau mengalihkan perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil miskinnya konsep diri.
e. Hubungan sosial
Pada anak-anak ini sering kurang dapat bergaul dengan teman sebayannya atau dengan orang dewasa. Mereka mempunyai sedikit teman, dan suka mengganggu orang dewasa misalnya dengan melempari batu, atau perbuatan-perbuatan kriminal lainnya.
Selain hal di atas kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak.(wong, perry & Hockenberry,2002 )
D. Patofisiologi
Kasus tindak kekerasan terhadap anak umumnya diperlakukan sebagai persoalan privat dan urusan internal masing-masing keluarga, sehingga tidak banyak yang ter ekspose di hadapan publik. Kasus child abuse biasanya baru menarik perhatian publik ketika sudah melewati wilayah kriminal. Beberapa istilah untuk menyebut kasus tindak kekerasan kepada anak adalah caffey syndrome, battered child syndrome, maltreatment syndrome ,dan child abuse. 
Tindak kekerasan pada anak adalah setiap tindakana yang mempunyai dampak fisik yang bersifat traumatis pada anak, baik yang dapat di lihat dengan mata telanjang atau dilihat dari akibatnya bagi kesejahteraan fisik dan mental anak. Tindak kekerasan yang di alami anak bisa menyebabkan dampak yang tingkat keparahanya terkatagori sedang, serius, atau fatal di mana korban meninggal dunia akibat tindak kekerasan yang di lakukan orang dewasa di sekitarnya.(Bagong Suyanto,2010)
E. Manifestasi klinis 
Tanda –tanda terjadinya child abuse:
a. Kekerasan anak secara fisik: penyiksaan, pemukulan, penganiayaan terhadap anak tanpa menggunakan benda-benda tertentu, yang menimbulkan luka-luka fisik atau kematian pada anak. Korban kekerasan ini tampak secara langsung pada fisik korban seperti memar,berdarah dan patah tulang
b. Kekerasan anak secara psikis: penghardikan,penyampaian kata-kata kotor dan kasar,memperlihatkan buku, gambar dan film pornografi pada anak. Anak yang mendapatkan perlakuan ini umumnya menunjukkan gejala perilaku maladaptife seperti menarik diri, pemalu, menangis jika di dekati
c. Kekerasan anak secara seksual: tindakan yang muncul dalam bentuk paksaan atau mengancam untuk melakukan hubungan seksual, melakukan penyiksaan atau bertindak sadis serta meninggalkan seorang termasuk mereka yang tergolong masih berusia anak-anak setelah melakukan hubungan seksualitas
d. Kekerasan anak secara sosial,dapat mencakup penelantaran anak dan eksploitasi anak. Penelantaraan anak adalah sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian yang layak terhadap proses tumbuh kembang anak.Misalnya,anak dikucilkan,di asingkan dari keluarga atau tidak di berikan pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak.eksploitasi anak menunjuk pada sikap diskriminatif atau perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yang di lakukan keluarga atau masyarakat. Sebagai contoh memaksa anak untuk melakukan sesuatu demi kepentingan ekonomi,sosial atau politik tanpa memperhatikan hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan sesuai dengan perlindungan fisik,psikisnya dan status sosialnya.
Secara teoritis, anak-anak yang mempunyai resiko tinggi untuk mengalami penganiayaan:
· Anak yang merupakan rintangan bagi orang tua atau pengasuhanya meliputi anak-anak yang hiperaktif sampai gangguan perkembangan 
· Anak yang tidak di kehendaki
· Lahir muda/premature
· Penderita penyakirt kronis atau lama masuk rumah sakit
· Lahir cacat
· Gangguan tingkah laku atau kenakalan 
· Anak-anak yang disusun oleh keluarga yang bermasal
Sementara itu, Henry Kempe dan Helper (1972), telah membuat suatu daftar gejala kondisi yang biasanya muncul dan ditemui pada penganiayaan anak. petugas kesehatan harus mempertibangkan kemungkinan adanya kasus penganiayaan anak apabila ditemui orang tuanya:
· Memberikan sejarah/ cerita yang tidak jelas, tidak masuk akal tentang terjadinya luka
· Memberikan keterangan tentang kejadian berulang-ulang 
· Nampak bereaksi sangat berlebihan atau kurang bereaksi dalam kaitanya dengan keseriusan dari situasi
· Bersikap yang tidak sesuai terhadap anak 
· Menuntut anak memenuhi kebutuhan orang tua 
· Menunjukkan adanya gangguan mental 
Menurut Fontana (1973), penganiayaan anak bila pada anak kita temui hal-hal sebagai berikut:
· Anak tampak ketakutan terurtama pada ornag tua 
· Anak di pisahkan pada waktu yang lama
· Dengan kelainan-kelainan kulit atau luka lain
· Kekurangan gizi 
· Sering kali menagis 
· Terlalu hati-hati terhadap larangan orang tua
F. Penatalaksanaan
Pencegahan dan penanggulangan penganiayaan dan kekerasan pada anak adalah
1. pelayanan kesehatan dapat melakukan berbagai kegiatan dan program yang ditunjukkan pada individu,keluarga, dan masyarakat
2. pendidikan sekolah mempunyai hak istimewa dalm mengajarkan bagian badan yang sangat pribadi yaitu penis, vagina, anus, mammae, dalam pelajaran biologi.perlu ditekankan bahwa bagian tersebut sifatnya sangat pribadi dan harus di jaga agar tidak diganggu orang lain. Sekolah juga perlu meningkatkatkan keamanan di sekolah. Sikap atau cara mendidik anak juga perlu di perhatikan agar tidak terjadi aniaya emosional. 
3. Penegak hukum dan keamanan hendaknya UU no.4 thn 1979, tentang kesejahteraan anak cepat di tegakkan secara konsekuen. Hal ini akan melindungi anak dari semua bentuk penganiayaan dan kekerasan. Bab II pasal 2 mentebutkan bahwa anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan secara wajar.
4. Media massa pemberitaan penganiayaan dan kekerasan pada anak hendakny diikuti oleh artikel-artikel pencegahan dan penggulangan. Dampak pada anak baik jangka pendek maupun jangka panjang diberitahukan agar program pencegahan lebih di tekankan 
G. Pengkajian
Fokus pengkajian secara keseluruhan untuk menegakkan diagnosa keperawatan berkaitan dengan child abuse, antara lain :
1. Psikososial 
a. Melalaikan diri 
b. Gagal tumbuh dengan baik
c. Keterlambatan perkembangan tingkat kognitif,psikomotorik,dan psikososial
2. Muskoloskeletal 
a. Fraktur 
b. Dislokasi 
c. Sprain
3. Genital urinaria
a. Infeksi saluran kemih
b. Perdarahan per vagina 
c. Luka pada vagina atau penis
d. Nyeri waktu miksi
H. Diagnosa dan intervensi keperawatan 
1. Resiko tinggi cedera b.d perilaku agresif ,perilaku anti sosial, dan percobaan bunuh diri di tandai dengan trauma
Tujuan : agar anak tidak cedera
Intervensi :
a. Lindungi anak agar tidak cedera lebih lanjut. R/ menghindari anak dari cedera atau luka yang lebih parah dan minimalkan dampak psikologis yang di timbulkan
b. Lakukan kecurigaan adanya penganiayaan. R/ dengan melaporan adanya kecurigaan adanya penganiayaan anak seperti luka pada kulit dapat mencegah terjadinya cedera yang lebih serius pada anak serta mencegah kematian.
c. Bantu diagnosis penganiayaan anak fisik,seksual/ emosional. R/ membantu dan menentukan alternative tindakan yang tepat untuk menghindari penganiayaan anak lebih lanjut.
2. Tidak efektifnya koping keluarga b.d faktor yang menyebabkan child abuse di tandai dengan depresi
Tujuan : mekanisme koping keluarga menjadi efektif
Intervensi:
a. Identifikasi faktor yang menyebabkan rusaknya mekanisme koping pada keluarga. R/ dengan mengidentifikasikan faktor-faktor yang di lakukan intervensi yang di butuhkan dan penyerhan pada pejabat yang berwenang pada pelayanan kesehatan.
b. Dorong anak dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang apa yang mungkin menyebabkan perilaku kekerasan. R/ akan mendapatkan jalan keluar untuk memodifikasi mereka
c. Ajarkan orang tua untuk perkembangan dan pertumbuhan anak sesuai tingkat umur, R/ orang tua mungkin mempunyai harapan yang tidak realistis tentang pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan anak b.d tidak adekutanya perawatan
Tujuan :perkembangan kognitif anak,psikomotorik dan psikososial dapat di sesuaikan denagan tingkat umurnya
Intervensi :
a. Diskusikan hasil tes kepada orang tua dan anak.R/ orang tua dan anak akan menyadari sehingga mereka dapat merencanakan rencana jangka panjang dan jangka pendek
b. Tentukan tahap perkembangan anak seperti 1 bulan, 2 bulan, 6bulan dan 1 tahun.R/ membantu perkembangan yang di harapkan 
c. Libatkan keterlambatan perkembangan dan pertumbuhan yang normal.R/ program stimulasi dapat membantu meningkatkan perkembangan menentukan intervensi yang tepat.
4. Resiko perilaku kekerasan oleh anggota keluarga b.d kelakuan yang maladaptive 
Tujuan: perilaku kekerasan pada keluarga dapat berkurang 
Intervensi: 
a. Lakukan konsuling kerjasama multidisiplin termasuk organisasi komunitas dan psikologis. R/ konseling dapat membantu perkembangan koping yang efektif.
b. Menyarankan keluarga kepada seorang terapi keluarga yang tepat.R/ terapi keluarga menekan dan memberikan support kepada seluruh keluarga untuk mencegah kebiasaan yang terdahulu,
c. Melaporkan seluruh kejadian yang actual yang mungkin terjadi kepada pejabat berwenang. R/ perawat mempunyai tanggung jawab legal untuk melaporkan semua kasus dan menyimpan keakuratan data untuk investigasi. 

Daftar Pustaka

Sowden Betz Cicilid.2002.Keperawatan Pediatric.Jakarta:EGC

Suyanto,Bagong.2010.Masalah Sosial Anak.Jakarta:Kencana

Huraerah,Abu.2007.Child Abuse.Bandung:Nuansa

Galles,Richard J,2004.Child Abuse.Dalam Encylopedia Article from Encarta.http://Encarta.msn.com/encylopedia 

Rusmil,Kusnandi.2004.Penganiayaan dan Kekerasan terhadap Anak.Bandung



Share:

Makalah KDM seksualitas


BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seksualitas merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Seksualitas di defenisikan sebagai kualitas manusia, perasaan paling dalam, akrab, intim dari lubuk hati paling dalam, dapat pula berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Karena itu pengertian dari seksualitas merupakan sesuatu yang lebih luas dari pada hanya sekedar kata seks yang merupakan kegiatan fisik hubungan seksual. Seksualitas merupakan aspek yang sering di bicarakan dari bagian personalitas total manusia, dan berkembang terus dari mulai lahir sampai kematian. Banyak elemen-elemen yang terkait dengan keseimbangan seks dan seksualitas. Elemen-elemen tersebut termasuk elemen biologis; yang terkait dengan identitas dan peran gender berdasarkan ciri seks sekundernya dipandang dari aspek biologis. Elemen sosiokultural, yang terkait dengan pandangan masyarakat akibat pengaruh kultur terhadap peran dan kegiatan seksualitas yang dilakukan individu. Sedangkan elemen yang terakhir adalah elemen perkembangan psikososial laki-laki dan perempuan. Hal ini dikemukakan berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang kaitannya antara identitas dan peran gender dari aspek psikososial. Termasuk tahapan perkembangan psikososial yang harus dilalui oleh oleh individu berdasarkan gendernya. 
Seks adalah perbedaan badani atau biologis perempuan dan laki-laki, yang sering disebut jenis kelamin yaitu penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. Seksualitas menyangkut berbagai dimensi yang sangat luas, yaitu dimensi biologis, sosial, perilaku dan kultural. Seksualitas dari dimensi biologis berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin, termasuk bagaimana menjaga kesehatan dan memfungsikan secara optimal organ reproduksi dan dorongan seksual . Seksualitas dari dimensi psikologis erat kaitannya dengan bagaimana menjalankan fungsi sebagai mahluk seksual, identitas peran atau jenis.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana definisi tantang seksualitas
b. Apa saja faktor yang mempengaruhi seksualitas
c. Apa saja gangguan pada seksualitas
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui tentang seksualitas
b. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi seksualitas
c. Untuk mengetahui gangguan pada seksualitas 

BAB II
LANDASAN TEORI 
A. PENGERTIAN SEKSUALITAS 
Seksualitas merupakan bagian dari kepribadian seseorang secara menyeluruh.Meskipun keterbukaan dan diskusi akan topik-topik seksual mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,tetapi masih banyak individu dewasa yang kekurangan pengetahuan tentang seksualitas dan enggan untuk mengangkat pertanyaan terkait seksualitas. Seksualitas lebih dari sekadar aktivitas fisik, melainkan perasaan kewanitaan dan kelakian baik secara biologis,sosiologis,psikologis,spiritual dan dimensi budaya dari setiap individu.Selain itu,nilai-nilai sikap ,perilaku, hubungan dengan orang lain,dan kebutuhan untuk membangun kedekatan emosional dengan orang lain akan mempengaruhi seksualitas .Menurut world Health Organization kesehatan seksual adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik,emosional,mental,dan sosial yang berhubungan dengan seksualitas tidak hanya sekadar bebas dari penyakit,disfungsi,atau kelemahan. Individu yang sehat secara seksual memiliki cara pendekatan yang positif dan penuh rasa hormat terhadap seksualitas dan hubungan seksual.Mereka juga berpotensi untuk merasakan kesenangan dan pengalaman seksual yang aman dan bebas dari paksaan,diskriminasi,dan kekerasan.
TINJAUAN SEKSUAL DARI BEBERAPA ASPEK 
Makna seksual dapat ditinjau dari beberapa aspek,diantaranya:
1. Aspek Biologis, aspek ini memandang dari segi biologi seperti pandangan anatomi dan fisiologi dari sistem reproduksi(seksual), kemampuan organ seks,adanya hormonal serta sistem saraf yang brfungsi atau berhubungan dengan kebutuhan seksual.
2. Aspek psikologis, aspek ini merupakan pandangan terhadap identitas jenis kelamin,sebuah perasaan dari diri sendiri terhadap kesadaran identitasnya, serta memandang gambaran seksual atau bentuk konsep diri yang lain.
3. Aspek Sosial Budaya, aspek ini merupakan pandangan budaya atau keyakinan yang berlaku dimasyarakat.
B. PERKEMBANGAN SEKSUALITAS 
Seksualitas mengalami perubahan sejalan dengan individu yang terus bertumbuh dan berkembang.Setiap tahap perkembangan memberikan perubahan pada fungsi dan peran seksual dalam hubungan.Perkembangan seksual diawali dari infantil dan masa kanak-kanak awal,usia sekolah,pubertas/masa remaja, masa dewasa muda,masa dewasa menengah,masa lansia.
a. Masa Pranatal Bayi
Pada masa ini komponen fisik atau biologis sudah mulai berkembang. Berkembangnya organ seksual mampu merespons rangsangan, seperti adanya ereksi penis pada laki – laki dan adanya pelumas vagina pada wanita. Perilaku ini terjadi ketika mandi, bayi merasakan adanya perasaan senang. Menurut sigmund freud, thap perkembangan psikosekseksual pada masa ini adalah :
1. Tahap oral
Terjadi pada tahun 0-1 tahun. Kepuasan, kesenangan dan kenikmatan dapat dicapai dengan cara menghisap, menggigit mengunyah, atau bersuara. Anak memilii ketergantungan sangat tinggi dan selalu minta dilindungi untuk mendapatkan rasa aman. Masalah yang diperoleh pada masa ini adalah masalah menyapih dan makan.
2. Tahap anal
Terjadi pada tahun 1-3 tahun. Kepuasan pada tahap ini terjadi pada saat pengeluaran feses. Anak mulai menunjukan kelakuannya, sikap sangat narsistik ( cinta terhadap diri sendiri ), dan egois. Anak juga mulai mempelajari struktur tubuhnya. Pada saat ini anak sudah dapat dilatih dalam hal kebersihan.
b. Infantil dan Masa Kanak-kanak Awal
sejak lahir anak-anak dirawat secara berbeda sesuai dengan gendernya.Tiga tahun pertama kehidupan.Tiga tahun pertama kehidupan merupakan masa penting dalam perkembangan identitas gender. Seorang anak memihak pada orang tua yang memiliki gender yang sama dan membangun sebuah hubungan yang berisi puji-pujian dengan orang tua yang berlainan gender.Anak-anak menyadari akan perbedaan antara jenis kelamin, mulai merasa bahwa mereka adalah pria dan wanita, dan menginterprestasikan perilaku orang lain sebagai perilaku yang sesuai untuk seorang pria dan wanita.
c. Usia Sekolah
selama usia sekolah,orang tua,guru-guru, dan kelompok teman sebaya berperan sebagai model peran dan mengajarkan tentang bagaimana pria dan wanita bertindak dan berhubungan dengan setiap orang. Anak-anak usia sekolah biasanya mempunyai pertanyaan tentang aspek fisik dan emosional yang berkaitan dengan seksual. Mereka memerlukan informasi yang akurat dari rumah dan sekolah tentang perubahan pada tubuh dan emosi mereka selama periode ini dan apa yang diharapkan saat mereka berpindah ke tahap pubertas.Pengetahuan tentang emosi yang normal danperubahan fisik yang berhubungan dengan pubertas akan mengurangi kecemasan selama perubahan tersebut mulai terjadi. Menstruasi atau mimpi basah terkadang sangat menakutkan bagi anak-anak yang kurang informasi,dan beberapa mengagapnya sebagai tanda dari suatu penyakit yang sangat menakutkan.
d. Pubertas/Masa Remaja
Perubahan emosional selama pubertas dan masa remaja sama dramatisnya dengan perubahan fisik. Remaja bekerja dalam sebuah kelompok teman sebaya yang sangat kuat,dengan kecemasan yang selalu ada.Remaja menghadapi banyak keputusan dan memerlukan banyak informasi yang akurat mengenai topik-topik seperti perubahan tubuh, aktivitas seksual, respons emosi terhadap hubungan intim seksual,PMS, 1kontrasepsi dan kehamilan.
Di Amerika Serikat,dilaporkan bahwa kira-kira 47% dari siswa sma telah melakukan hubungan melakukan intim seksual minimal satu kali.Salah satu alasan mengapa mereka melakukan hubungan intim seksual membantu mereka mencapai tujuan keintiman,status sosial, dan kesenangan. Banyak remaja yang melakukan hubungan seks tidak melindungi diri mereka dari kehamilan atau PMS. Dinamika risiko hubungan seks tidak sepenuhnya dimengerti tapi beberapa penelitian telah mendapatkan hubungan antara pemakaian obat/alkohol,pelecehan seksual,dan hubungan seksual yang tidak aman.Remaja cenderung berpikir bahwa mereka tidak terkalahkan dan percaya bahwa kehamilan yang tidak diingankan PMS,dan hasil negatif lainya dari perilaku seks tidak akan terjadi pada mereka.Orang tua harus memahami pentingnya memberikan informasi faktual,membagi nilai-nilai yang mereka punyai dan meningkatkan ketrampilan membuat keputusan yang tegas.
Masa remaja merupakan masa di mana individu menggali orientasi seksual primer mereka.Kebanyakan remaja akan mengalami minimal satu pengalaman homoseksual dengan seseorang atau dalam sebuah kelompok.Remaja biasanya merasa takut pengalaman tersebut akan menentukan seksualitasnya totalnya sebagai homoseksual. Hal ini tidak benar. Banyak individu yang melanjutka orientasi seksual mereka sebagai menakutkan dan mereka sebagai homoseksual dengan jelas.Hal ini menakutkan dan membingungkan bagi seorang remaja.Dukungan untuk identitas seksual remaja dari penasihat sekolah,pendeta,keluarga,perawat, dan profesi kesehatan lainnya penting selama periode ini.
e. Masa Dewasa Muda
Meskipun individu dewasa muda telah memiliki kematangan secara fisik,mereka harus terus menggali dan mematangkan hubungan secara emosional.Keintiman dan seksualitas merupakan bagi semua individu dewasa muda ,apakah mereka melakukan hubungan seks tetap memilih hidup sendiri,menjadi homoseksual,atau menjadi janda.Individu sehat secara seksual dalam berbagai cara.Aktivitas seksual sering didefinisikan sebagai dasa kebutuhan,dan keinginan sepanjang kehidupan.
Sebagai individu yang aktif secara seksual yang membangun hubungan intim,mereka mempelajari teknik stimulasi yang dapat memuaskan diri sendiri dan pasangan seksual mereka.beberapa individu dewasa memerlukan izin atau penegasan bahwa cara alternatif untuk mengungkapkan seks selain hubungan penis dan vagina adalah normal.Individu lain membutuhkan edukasi dan terapi yang signifikan untuk mencapai hubungan seksual yang memuaskan danbermutu. Individu dewasa muda,terutama mereka dengan status sosial ekonomi yang rendah,memiliki risiko tinggi mengalami PMS.
f. Masa Dewasa Menengah 
Perubahan dalam penampilan fisik pada masa dewasa menengah terkadang menimbulkan masalah dalam ketertarikan seksual.Selain itu perubahan fisik aktual berhubungan dengan proses penuaan memengaruhi fungsi seksual. Penurunan kadar estrogen pada wanita perimenopause menyebabkan kurangnya lubrikasi dan elastisitasvagina.Kedua perubahan ini sering menyebabkan dispareunia atau rasa nyeri selama berhubungan seks.Penurunan kadar estrogen juga menyebabkan menurunnya keinginan untuk melakukan aktivitas seksual. Pada pria,mereka cenderung mengalami perubahan seperti peningkatan periode refrakter pasca ejakulasi dan penundaan ejakulasi.Untuk mengurangi masalah dalam fungsi seksual, petunjuk antisipasi terhadap perubahan normal ini,menggunakan cairan lubrikasi vagina dan menciptakan waktu untuk bercumbu dan kelembutan dapat diterapkan.Beberapa individu dewasa juga memerlukan penyesuaian diri terhadap dampak penyakit kronis,obat-obatan ,rasa sakit,nyeri dan masalah kesehatan lainya yang terkait dengan seksualitas.
Pada usia dewasa beberapa individu harus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial dan emosi yang terjadi karena anak-anak yang keluar dari rumah. Kondisi ini dapat memberikan waktu untuk memperbaharui keintiman antar-pasangan saat pasangan menyadari bahwa mereka tidak saling peduli atau mempunyai perasaan yang sudah biasa-biasa saja.Pada kasus lain,waktu dimana anak-anak meninggalkan rumah biasanya menciptakan suatu perubahan dalam hubungan intim.
g. Masa Lansia 
Perubahan yang terjadi pada tahap ini pada wanita di antaranya adalah atropi pada vagina dan jaringan payudara,penurunan cairan vagina,dan penurunan intensitas orgasme pada wanita ,sedangkan pada pria akan mengalami penurunan produksi sperma,berkurangnya intensitas orgasme terlambatnya pencapaian ereksi dan pembesaran kelenjar prostat.
C.Struktur Kepribadian Id, Ego dan Superego Sigmund Freud
Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai id, ego dan superego yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.
a. Id 
Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian. Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan negara atau ketegangan. Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi. Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.
b. Ego 
Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak sadar. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.
c. Superego 
Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.
Ada dua bagian superego: 
Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.
Interaksi dari Id, Ego dan superego 
Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan antara id, ego, dan superego.
D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MASALAH SEKSUAL 
Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi gangguan dalam fungsi seksual,di antaranya:
1. Tidak adanya panutan (role model)
2. Gangguan struktur dan fungi tubuh, seperti adanya trauma,obat, kehamilan,atau abnormalitas anatomi genitalia
3. Kurang pengetahuan atau informasi yang salah mengenai masalah seksual 
4. Penganiayaan secara fisik
5. Adanya penyimpangan psikoseksual
6. Konflik terhadap nilai 
7. Kehilangan pasangan karena perpisahan atau kematian 

Secara umum bentuk-bentuk gangguan seksual manusia dikelompokan atas tiga bagian,yaitu:
1. Gangguan Identitas Seksual ( gender identity disorder )
2. Disfungsional Seksual (disfunctional sexual)
3. Parafilia 
a. Gnguaan Identitas Seksual 
Adalah ketidakpuasan terhadap jenis kelamn biologis sendiri dan ketidakpuasan psikologis atau perasaan diri sebenarnya memiliki jenis kelamin yang berlawanan dengan realitas (gangguan sense identity) pada seks biologisnya.
Ciri-ciri dari gangguan identitas seksual yaitu:
Dapat kelihatan pada usia 18 bulan hinggaa 3 tahun 
Gangguan tidak secara spesifik bersifat seksual tetapi berupa sense identitas seseorang sebagai laki-laki atau perempuan 
Gender fisik tidak konsisten.Esensi maskulin atau feminimnya seseorang tertanam pada perasaan pribadi yang sangat mendalam pada diri seseorang
Tujuan utamanya bukan rangsangan seksual, namun lebih berupa keinginan untuk menjalani kehidupan lawan jenisnya
Disebut juga sebagai transeksualisme 
Secara umum bentuk-bentuk dari gangguan identitas seksual( transeksual)yaitu:
1) Transvestite fetishism (fetisisme transvestisme) adalah rngsangan seksual dengan prefensi lawan jenisnya untuk mendapatkan kepuasaan seks dengan menggunakan cross-dressing(pakaian lawan jenis)
2) Male to female adalah laki-laki yang memiliki identitas gender feminim, tertarik secara seksual perempuan dan membuat teknik rangsangan seks bersifat homoseksual. Merupakan suatu keinginan pria untuk menjadi perempuan
3) Female to male adalah perempuan yang memiliki identitas gender maskulin,dan tertarik secara seksual laki-laki dan membuat rangsangan seks bersifat lesbian.Merupakan suatu keinginan seorang wanita untuk menjadi laki-laki 
4) Intersexed individual (hermafrodit) adalah seseorang yang lahirdengan alat kelamin yang tidak jelas atau adanya abnormal hormonaln dan abnormal fisik lainya 
b. Gangguan Disfungsi Seksual (disfunction sexual)
Adalah gangguan seksual dimana seseorang mengalami gangguan atau kesulitan untuk berfungsi secara adekuat selama berhubungan seks.
Secara umum bentuk-bentuk disfungsi seksual yaitu :
1) Gangguan nafsu seksual hipoaktif yaitu jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan kurang adanya minat melakukan hubungan seksual dalam kurun waktu yang berulang-ulang sebagai akibat distres yang signifikan atau kesulitan dalam hubungan interpersonal
2) Gangguan aversi seksual adalah jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan perasaan tidak suka yang persisten dan ekstrem terhadap hubungan seksual sebagai akibat kecemasan yang memicu kepanikan dalam kontak seksual sehingga timbul rasa muak dalam hubungan seks 
3) Gangguan rangsangan seksual adalah jenis disfungsi seksual yang ditandai dengan adanya gangguan ereksi atau impotensi dan gangguan frigiditas, pada pria disebut gangguan ereksi sedangkan pada wanita lubrikasi vagina 
4) Gangguan orgasme seksual pada pria disebut sebagai ejakulasi sedangkan pada wanita disebut hambatan orgasme
c. Gangguan Seks Parafilia 
Istilah parafilia terdiri dari kata para= ketertarikan yang abnormal ,dan filia=rasa kuat yang tidak semestinya.jadi parafilia adalahpenyimpangan seks dimana keterangsangan seks timbul terutama dalam konteks objek-objek / individu yang tidak semestinya. 
Ciri-ciri gangguan parafilia yaitu:
Ø Diferensiasi yang sudah ada sebelumnya 
Ø Unsur sama-sama suka sehingga Para penderita memperoleh ketrampilan objek seksual menurut stimulus yang diterima dari orang dewasa pada masa kanak-kanak 
Ø Fantasi seks masa kanak-kanak yang selalu diperkuat dengan kegiatan masturbasi dan dorongan seks ekstrem kuat yang dikombinasi berpikir yang abnormal 
Secara umum bentuk-bentuk dari parafilia adalah:
1) Fatisme adalah dorongan ,fantasi dan perilaku seks yang melibatkan benda-benda mati dan tidak lazim 
2) Voyeurisme adalah dorongan fantasi dan perilaku seks muncul dengan cara mengintip orang lain melakukan hubungan seks 
3) Pedofilia adalah fantasi dorongan dan perilaku seksual terangsang melalui hubungan seks dengan anak-anak 
4) Incest adalah fantasi dorongan dan perilaku seksul yang terangsang terhadap sesama anggota keluarga
Masalah Keperawatan pada Seksualitas 
Masalah keperawatan yang terjadi pada kebutuhan seksual adalah pola seksual dan perubahan disfungsi seksual. Pola seksual mengandung arti bahwa suatu kondisi seorang individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan kesehatan seksual,sedangkan kesehatan seksual sendiri adalah integrasi dari aspek somatis,emosional,intelektual,dan sosial dari keberadaan seksual yang dapat meningkatkan rasa cinta,komunikasi dan kepribadian.Disfungsi seksual adalah keadaan dimana seorang mengalami atau berisiko mengalami perubahan fungsi sosial yang negatif,yang dipandang sebagai tidak berharga dan tidak memadainya fungsi seksual.
E. ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH SEKSUAL 
A. Pengkajian Keperawatan 
Pengkajian keperawatan adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari 
Berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan meng indentifikasi status 
kesehatan pada pasien.
· Mengkaji tahap perkembangan klien dalam hal seksualitas
· Melakukan pengkajian fisik pada area urogenitalia
· Menentukan masalah seksual klien 
· Mengkaji adanya perilaku resko tinggi, menggunakan praktek sek yang aman dan kontrasepsi
· Mengkaji kondisi medis dan obat obatan yang dapat mempengaruhi fungsi seksual
B. Diagnosis keperawatan 
Diagnosis keperawatan yang dapat terjadi pada seksualitas antara lain:
v Perubahsn disfungsi seksual dan pola seksual berhubungan dengan stres 
v Efek penyakit angkut dan kronis 
v Perubahan atau kehilangan anggota tubuh 
v Perubahan pascapartum
v Perasaan takut hamil 
v Penyakit hubungan seksual 
v Ketakutan terhadap efek koitus (adanya serangan jantung)
v Trauma tulang belakang
v Perubahan neurologi seperti impotensi 
v Pandangan negatif terhadap perubahan tubuh seperti (masektomi)
v Kurangnya pengetahuan tentang penyakit karena hubungan seksual 
v Ketakutan bayi cacat akibat koitus
v Penggunaan alkohol yang berlebihan 
v Perasaan yang bersalah
v Pengalaman traumatik
v Ketakutan ketidakmampuan memuaskan pasangan 
v Rasa nyeri karena tidak cukupnya cairan vagina.
C. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan 
Tahap perencanaan yang dilakukan adalah penentuan tujuan dan masalah yang hendak diatasi ,dengan tujuan agar pasien mampu mempertahankan atau menolong individu untuk mencapai integritas seksual serta dapat mengembangkan kesadaran diri terhadap sikap ,keyakinan dan pengetahuan tentang seksual,memahami berbagai informasi dan pendidikan seksual yang akurat, mampu mengidentifikasi masalah seksual, dan meningkatkan body image serta harga diri pasien.Kemudian,rencana dan intervensi yang dapat dilakukan adalah: 
· Memberikan pendidikan dan konseling tentang kebutuhan dan masalah seksual 
· Mencegah isolasi sosial
· Mengurangi dorongan seksual
· Meningkatkan citra diri dan harga diri pasien 
h. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah seksual secara umum dapat dinilai dari kemampuan untuk melakukan hubungan seksual,percaya diri akan adanya kepuasan hubungan seksual,dan mampu mengekspresikan perasaan tentang kebutuhan seksual, mampu meningkatkan fungsi peran serta konsep diri.
· Evaluasi persepsi klien terhadap fungsi seksual
· Minta klien untuk mendiskusikan praktik seks yang aman
· Tanyakan apakah harapan klien telah terpenuhi 
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seksualitas merupakan bagian dari kepribadian seseorang secara menyeluruh. Seksualitas lebih dari sekadar aktivitas fisik, melainkan perasaan kewanitaan dan kelakian baik secara biologis,sosiologis,psikologis,spiritual dan dimensi budaya dari setiap individu Menurut world Health Organization kesehatan seksual adalah suatu keadaan kesejahteraan fisik,emosional,mental,dan sosial yang berhubungan dengan seksualitas tidak hanya sekadar bebas dari penyakit,disfungsi,atau kelemahan Tinjauan seksualitas terdapat 3 aspek yaitu biologis, psikologis dan sosial budaya.
Perkembangan seksualitas dimulai sejak Infantil dan Masa Kanak-kanak Awal, Usia Sekolah, Pubertas/Masa Remaja, Masa Dewasa Muda,Masa Dewasa Menengah, Masa Lansia Struktur Kepribadian Id, Ego dan Superego Sigmund Freud
a. Id 
b. Ego
c. Superego 
Secara umum bentuk-bentuk gangguan seksual manusia dikelompokan atas tiga bagian,yaitu:
a. Gangguan Identitas Seksual ( gender identity disorder )
b. Disfungsional Seksual (disfunctional sexual)
c. Parafilia 
ASUHAN KEPERAWATAN PADA MASALAH SEKSUAL 
a. Pengkajian Keperawatan 
b. Diagnosis keperawatan 
c. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan 
d. Evaluasi Keperawatan
DAFTAR PUSTAKA
Potter and Perry Volume 2.2006.Fundamental Keperawatan.EGC:Jakarta.
Herri Zan Pieter dan Namora Lumonggo Lubis.2010.Pengantar Psikologi dalam Keperawatan.Prenada Media:Jakarta.
Mi Ja Kim,Gertrude K.MeFarland dan Audrey M.Mclane.1993.Diagnosa Keperawatan.EGC:Jakarta.
Hidayat,A.Aziz Alimul.2006.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia;Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan;Buku1.Salemba Medika:Jakarta.
Carpenito,lynda juall.1998.Diagnosis Keperawatan Buku Saku Edisi 6.Penerbit Kedokteran:Jakarta.
Share:

Makalah Akut Myeloid Leukimia

Akut Myeloid Leukimia (AML)
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian
Akut Myeloid Leukimia (AML) adalah kegagalan sumsum tulang akibat di gantinya elemen normal sumsum tulang oleh blas (sel darah yang masih muda) leukemik (Robbins, 2007).
Akut Myeloid Leukimia (AML) adalah suatu penyakit yang di tandai dengan transformaasi neoplastik dan gangguan diferensi sel-sel progenitor dari sel mieloid (sifat kemiripan dengan sumsum tulang belakang) (Kurniandra, 2007).
Acute Lymphoblastic Leukimia (ALL) adalah suatu poliferasi ganas dari limfoblast (Handayani dan Haribowo, 2008).

B.     Etiologi
Sedangkan menurut Shu yang di kutip dari Permono (2012) melaporkan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi alkohol menigkatkan resiko terjadinya Leukimia pada bayi terutama AML.
Faktor lain prnyebab AML adalah:
1.    Benzene : suatu senyawa kimia yang di gunakan pada industri penyamakan kulit di Negara sedang berkembang.
2.    Radiasi ionik : di ketahui dari penelitian tentang tingginya insidensi kasus leukemia, termasuk AML, pada orang-orang yang selamat dari serangan bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
3.    Trisomi kromosom : pada pasien yang terkena sindrom down mempuyai resiko 10 hingga 18 kali lebih tinggi untuk menderita leukemia.
4.    Pengobatan dengan kemoterapi (Kurnianda,2007).

C.    Manifestasi klinis
Tanda dan gejala AML digolongkan menjadi 3 golongan besar:
1.    Gejala kegagalan sumsung tulang, yaitu:
a.    Anemia minimbulkan gejala pucat dan lemah.
b.    Netropenia menimbulkan infeksi yang ditandai oleh demam, infeksi rongga mulut, tenggorokan, kulit, saluran napas, dan sepsis.
c.    Trombositopenia menimbulkan perdarahan kulit, perdarahan mukosa, seperti perdarahan gusi dan epistaksis.
2.    Keadaan hiperkatabolik, yang ditandai oleh:
a.    Kaheksia
b.    Keringat malam
c.    Hiperurikemia yang dapat menimbulkan gout dan gagal ginjal
3.    Infiltrasi ke dalam organ menimbulkan organomegali dan seperti:
a.    Nyeri tulang dan nyeri sternum
b.    Splenomegali atau hepatomegali yang biasanya ringan
c.    Hipertrofi gusi dan infiltrasi kulit.
d.   Sindrom meningeal : sakit kepala, mual, muntah, mata kabur.
Gejala lain yang dapat dijumpai:
Leukostatis terjadi jika leukosit terjadi melebihi 50.000/Ul (Bakta, 2013).
D.    Patofisiologi
Pathogenesis utama AML adalah adanya blockade maturitas yang menyebabkan proses diferensiasi sel-sel myeloid terhenti pada sel-sel muda (blast) dengan akibat terjadinya akumulasi blast di sumsum tulang. Akumulasi blast dalam sumsum tulang akan menyebabkan sindrom kegagalan sumsum tulang yang di tandai dengan adanya sitopenia (anemia, lekopenia dan trombositopenia). Adanay anemia akan menyebabkan pasien mudah leleah dan pada kasus yang lebih berat sesak nafas, trombositopenia akan menyebabkan tanda-tanda pendarahan, sedang adanya leukopenia akan menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi. Selain itu sel-sel blast yang terbentuk juga punya kemampuan untuk migrasi keluar sumsum tulang dan berinfilterasi ke organ-organ lain seperti kulit, tulang, jaringan lunak dan system syaraf pusat dan merusak organ-organ tersebut dengan segala akibatnya (Kurnianda, 2007).
Perbedaan ALL dengan AML menurut Bakta (2013) yaitu:

NO

ALL
AML
1





2




3
Morfologi





Sitokimia
a.       Mieloperok sidase
b.      Sudan black
c.       Esterase non spesifik


Ensim
Serum lysozime
Limfoblast:
·         Kromatin: bergumpal
·         Nukleoli: lebih samar, lebih sedikit
·         Sel pengiring: limfosit


-
-
-


-
Mieloblast:
·         Lebih halus
·         Lebih prominent
·         Lebih banyak (>2)
·         Netrofil


+
+
+


+ (monositik

 
E.     Pathway




                               
 (Kurnianda, 2007).  
F.     Pemeriksaan Penunjang
Pada leukemia akut sering dijumpai kelainan laboratorik, seperti berikut:
1.    Darah tepi
a.    Dijumpai anemia normokromik-normositer, anemia sering berat dan timbul cepat.
b.    Leukosit menigkat, tetepi dapat juga normal atau menurun. Sekitar 25% menunjukkan leukosit normal atau menurun, sekitar 50% menunjukkan leukosit meningkat 10.000-100.000/mm, dan 25% meningkat di atas 100.000/mm
c.    Darah tepi: menunjukkan adanya sel muda (meiloblast, promirlosit, limfoblast, monoblast, erythroblast atau megakariosit) yang melebihi 5% dari sel berinti pada darah tepi. Sering di jumpai pseudo pelger-huet anomaly, yaitu netrofil dengan lobus sedikit (dua atau satu) yang di sertai dengan hipo atau agranular.
2.    Sumsum tulang (Trasplantasi sumsum tulang)
Hiperseluler, hampir semua sel sumsum tulang diganti sel leukemia (blast), dengan adanya leukemic gap (terdapat perubahan tiba-tiba dari sel muda (blast) ke sel yang matang. Jumlah Blast minimal 30% dari sel berinti dalam sumsum tulang (dalam hitung 500 sel pada asupan sumsum tulang).
a.    Merupakan terapi yang memberi harapan penyembuhan,
b.    Efek samping dapat berupa: penemonia intersisial,
c.    Hasil baik jika usia penderita < 40 tahun,
d.   Sekarang lebih sering di berikan dalam bentuk transplantasi sel induk dari darah tepi.
3.    Pemeriksaaan sitogenetik (Pemeriksaan kromosom)
Pemeriksaan kromosom merupakan pemeriksaan yang sangat diperlukan dalam diagnosis leukemia karena kelainan kromosom dapat di hubungkan dengan prognosis, seperti terlihat pada klasifikasi WHO (Bakta,2013).
G.    Penatalaksanaan
Terapi pengobatan pasien AML menurut Mehta dan Hoffbrand (2008) yaitu:
1.    Fase pertama terapi (remisi-induksi) adalah pengobatan dengan kemoterapi kombinasi intensif dosis tinggi untuk mengurangi atau meneradikasi sel leukemik dari sumsum tulang dan mengembalikan hemopoiesis normal.
2.    Kemoterapi paska induksi: hal ini dapat intensif (kemoterapi “intensifikasi” atau “konsulidasi”) atau kurang intensif (kemoterapi rumatan). Setiap perjalanan pengobatan intensif biasanya memerlukan waktu 4-6 minggu di rumah sakit.
3.    Treanspalntasi sumsum tulang
a.    Merupakan kemoterapi postremisi yang memberi harapan penyembuhan.
b.    Efeksamping dapat berupa: pneumonia interstitial.
c.    Hasil baik jika umur penderita <40 tahun
d.   Sekarang lebih sering di berikan dalam bentuk transplantasi sel induk dari darah tepi.
Terapi untuk leukemia akut (Bakta, 2013), dapat di golongkan menjadi dua, yaitu:
1.    Terapi spesifik: dalam bentuk kemoterapi.
2.    Terapi suportif: untuk mengatasi kegagalan sumsum tulang, baik karena proses leukemia sendiri atau sebagai akibat terapi.
Tiga metode terapi konsulidasi adalah kemoterapi sendiri,transplantasi sumsum tulang autologus, atau transplantasi alogenik dari donor dengan HLA yang identik saat ini nampaknya transplantasi sumsum tulang autologus menunjukkan hasil baik, namun transplantasi alogenik dari donor dengan HLA yang identik masih merupakan yang terbaik untuk kesembuhan (Permono, 2012).
H.    Konsep tumbuh kembang
Konsep tumbuh kembang menurut Allen dan Marotz (2010) menyebutkan bahwa ciri-ciri pertumbuhan anak usia 5 tahun, antara lain:
1.    Pertumbuhan dan ciri-ciri fisik:
a.    Bertambah berat badannya 4 sampai 5 pon (1,8 – 2,3 kg) pertahun; berat badannya rata-rata 38 sampai 45 pon (17,3 – 20,5).
b.    Bertambah tinggi 2 sampai 2,5 inci (5,1 – 6,4 cm) per tahun; tingginya rata-rata 42 sampai 46 inci (106,7 – 116,8 cm).
c.    Rata-rata denyut nadi 90 sampai 110 kali permenit.
d.   Kecepatan pernafasan berkisar dari 20 sampai 30, tergantung pada kegiatan dan keadaan emosi.
e.    Suhu tubuh stabil pada 36,6C – 37,4C (98 sampai 99,4 F)
f.     Ukuran kepala kira-kira hampir sama dengan ukuran orang dewasa.
g.    Proporsi tubuh seperti pada ornag dewasa.
h.    Membutuhkan kuarang lebih 1800 kalori sehari.
i.      Ketajaman penglihatan 20/20 dengan mengunakan tabel mata snelen.
2.    Perkembangan motorik:
a.    Berjalan mundur, melangkah dari tumit ke jari kaki.
b.    Berjalan naik turun tangga tanpa di bantu, dengan kaki melangkah saling bergantian.
c.    Belajar berjugkir balik.
d.   Menyentuh jari kaki tanpa menekuk lututnya.
e.    Belajar melompat dengan menggunakan satu kaki.
f.     Berdiri di atas satu kaki dengan baik selama sepuluh detik.
g.    Menunjukkan pengendalian yang cukup baik pada pensil atau spidol : bisa mulai mewarnai di dalam garis.
3.    Perkembangan perseptual-kognitif
a.    Membentuk segi empat dari dua potongan segitiga.
b.    Melaporkan dan menunjukkan benda dengan dasar dua kategori, misalnya warna dan bentuk.
c.    Menyebutkan benda dengan urutan letak tertentu: pertama kedua terahir.
d.   Memahami konsep lebih banyak/sedikit,
e.    Mengrtahui kegunaan kalender.
I.       Pengkajian Keperawatan
Pengkajian keperawatan menurut Handayani (2008).
1.    Data dasar pengkajian pasien
a.    Aktifitas
1)   Gejala:
kelemahan; ketidakmampuan untuk melakukan aktifits biasanya.
2)   Tanda:
kelemahan otot.
Peningkatan kebutuhan tidur, somnolen.
b.    Sirkulasi
1)   Gejala: palpitasi
2)   Tanda:
Takikardia, mumur jantung
Kulit, membran mukosa pucat
Defisit saraf kranial atau tanda pendarahan serabral.
c.    Eliminasi
1)   Gejala:
Diare: nyeri tekan perinatal
Darah pada urin, penurunan urin
d.   Makanan/Cairan
1)   Gejala:
Kehilangan nafsu makan, anoreksia, muntah.
Perubahan rasa/penyimpangan rasa
Perubahan berat badan
2)   Tanda:
Distensi abnormal, perubahan bunyi usus
Stomatitis, ulkus mulut
Hipertrofi gusi (infilterasi gusi mengindikasikan leukimia monositik akut).
e.    Neurosensori
1)   Gejala:
Perubahan alam perasaan, kacau, disorientasi kurang konsentrasi
Pusing; ksemutan
2)   Tanda: otot mudah terangsang, aktifitas kejang.
f.     Nyeri/kenyamanan
1)   Gejala:
Nyei abdomen, sakit kepala, nyeri tulang/sendi: kram otot
2)   Tanda:
Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus pada diri sendiri.
g.    Pernafasan
1)   Gejala: nafas pendek dengan kerja minimal
2)   Tanda:
Dispepnea, takipnea
Batuk
h.    Keamanan
1)   Gejala:
Riwayat infeksi saat ini
Gangguan penglihatan/kerusakan
Pendarahan spontan tak terkontrol
2)   Tanda:
Demam, infeksi
Kemerahan, pendarahan gusi, atau epitaksis
i.      Seksualitas
Gejala:
1)   Perubahan libido
2)   Perubahan aliran menstruasi
3)   Impoten
j.      Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala:
1)   Riwayat terpejan pada kimiawi, misal bnzene.
2)   Radiasi berleihan
3)   Pengpbatan kemoterapi sebelumnya,
4)   Gangguan kromosom.
k.    Pemeriksaan diasnotik
1)   Hitung darah lengkap: menunjukakan normositik, anemia normositik.
a)    Hemoglobin: dapat kurang dari 10 g/100 ml
b)   Retikulosit: jumlah biasanya rendah.
c)    Jumlah trombosit: mungkin sangat rendah (<50.000/mm)
2)   PT/PTT: menunjang.
3)   LDH: mungkin meningkat
4)   Zink serum: menurun
5)   Muramidase sumsum: peningkatan pada leukimia monositik akut dan mielomonositik.
l.      Pioritas keperawatan
1)   Mencegah infeksi selama fase akut penyakit/pengobatan.
2)   Mempertahankan volume sirkulasi darah.
3)   Meghilagkan nyeri
4)   Menigkatkan fungsi fisik optimal.
5)   Memberikan dukungan pesikologis.
6)   Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.
m.  Diagnosa keperawatan.
1)   Nyeri akut
Dapat dihubungkan dengan:
a)      Agen fisikal, misalnya: pembesaran organ/ nodus limfe.
b)      Agen kimia, misalnya: pengobatan anti leukemik.
Kemungkinan dibuktiakn oleh:
a)        Keluhan nyeri (tulang, saraf, sakit kepala)
b)        Perilaku berhati-hati/ distraksi, wajah mengkerut, gangguan tonus otot.
Hasil yang diharapkan:
a)        Melaporkan nyeri hilang/ terkintrol.
b)        Menunjukkan perilaku penaganan nyeri.
c)        Tampak rileks dan mampu tidur/ istriahat dengan tepat.
2)   Intoleransi aktifitas
Dapat dihubungkan dengan:
a)        Kelemahan umum, penurunan cadangan energi, peningkatan laju metabolik.
b)        Tidak keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
c)        Pembatasan terapuitik (isolasi/ tirah baring); efek terapi obat.
Kemungkinan di buktikan oleh:
a)        Keluhan verbal kelemahan atau kelelahan.
b)        Ketidaknyamanan
Hasil yang di harapkan:
a)        Laporan peningkatan toleransi aktivitas yang dapat di ukur.
b)        Berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuan.
3)   Kurangnya pengetahuan tentang penyakit.
Dapat di hubungkan dengan:
a)        Kuarang terpajan pada sumber.
b)        Salah interpretasi informasi/ kurang meningkat.
Kemungkinan dibuktikan oleh:
a)        Pernyataan msalah/ permintaan informasi.
b)        Pernyataan salah konsepsi.
Hasil yang diharapkan:
a)        Menyatakan pemahaman proses penyaki.
b)        Berpartisipasi dalam program pengobatan.
n.    Intrevensi  dan rasional
Diagnosa I
1)   Slidiki keluhan nyeri. Perhatikan perubahan derajat dan sisi (gunakan sekala 0-10).
Rasional:
Membantu mengkaji kebutuhan untuk intervensi, dapat mengindikasikan terjadinya komplikasi.
2)   Awasi tanda vital. Perhatikan petunjuk non verbal.
Rasional:
Dapat membantu mengevaluasi pernyataan verbal dan keefektifan intervensi.
3)   Berikan lingkungan yang tenag.
Rasional:
Menigkatkan istirahat dan menigkatkan kemampuan koping.
4)   Tempatkan pada posisi nyaman.
Rasional:
Dapat menurunkan ketidaknyamanan tulang/sendi.
5)   Dorong menggunakan teknik manajemen nyeri, contoh latihan relaksai/ nafas dalam, visualisai; sentuhan terapuitik.
Rasional:
Memudahkan relaksai, terapi farmakologis tambahan, dan menigkatkan kemampuan koping.
Diagnosa II
1)   Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas atau aktifitas sehari-hari.
Rasional:
Evek leukimia, anemia, dan kemoterapi mungkin kumulatif (kususnya selama fase pengobatan akut dan aktif).
2)   Berikan lingkungan tentang dan periode istirahat tanpa gangguan. Dorong istirahat sebelum makan.
Rasional:
Menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler/ penyembuhan jaringan.
3)   Implementasikan teknik penghematan energi, contoh lebih baik duduk daripada berdiri. Bantu ambulai/ aktifitas lain sesuai indikasi.
Rasional:
Memaksimalkan sendian energi untuk tugas perawatan diri.
4)   Jadwalkan makan sekitar kemoterapi. Berikan kebersihan mulut sebelum makan.
Rasional:
Dapat menigkatkan pemasukan dengan menurunkan mual.
5)   Berikan oksigen tambahan.
Rasional:
Memaksimalkan sediaan oksigen untuk kebutuhan seluler.
Diagnosa III
1)      Kaji ulang patologi bentuk kusus leukimia dan berbagai bentuk pengonatan.
Rasional:

Pengobatan dapat termasuk berbagai obat antineoplastik, radiasi seluruh tubuh atau hati/ limpa, transfusi, dan transplantasi sumsum tulang.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, K Eileen & Marotz, Lynn R. (2010). Profil Perkembangan Anak: Pra Kelahiran hingga Usia 12 Tahun. Jakarta: PT. Indeks.

Bakta, I Made. (2013). Hematologi Klinik Ringkas. Jakarta: EGC.

Carpenito, L.J. (2004). Buku Saku Diagnosa Keperawatan (10th ed.). Jakarta: EGC.

Handayani,W., & Haribowo, A.S. (2008). .Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba Medika.

Kurnianda, Johan. (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit  Dalam. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Kusuma, Hardhi & Nurarif, Amin Huda. (2012). Handbook for Health Student: Nursing, Midwife, Pharmacy, Docter. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Permono, Bambang. (2012). Buku Ajar Hematologi – Onkologi Anak (4th ed.). Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Robbins. (2007). Buku Ajar Patologi. EGC.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. (2007). Buku Kuliah 1: ilmu kesehatan anak (11th ed.). Jakarta: Infomedika.

Suriadi & Yuliani, Rita. (2006). Asuhan Keperawatan pada Aanak. Jakarta: Penebar Swadaya.

Wilkinson, Judith M., & Ahern, N.R. (2012). Buku Saku: Diagnosa Keperawatan (9th ed) (Esty Wahyuningsih & Dwi Wdiarti, Penerjemah.). Jakarta: EGC.
Share:

Tidur Setelah Sahur: Boleh atau Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkapnya

  Tidur Setelah Sahur: Boleh atau Berbahaya? Ini Penjelasan Lengkapnya Bangun dini hari untuk sahur sering membuat tubuh masih terasa sanga...

BTemplates.com

Search This Blog

Powered by Blogger.